Cerita ini diawali dari perayaan Idul Adha pada kampung di pinggir sebuah kota besar. Seperti biasa, Orang-orang kaya di kampung itu selalu berlomba-lomba memberi sapi dan kambing sebagai korban. Dan sesuai dengan kebiasaan pula, sesudah Maghrib selalu diadakan semacam perayaan dan pengajian Idhul Adha.
Seorang ustad yang cukup terkenal didatangkan dari kampung lain untuk memberi ceramah. Sesudah dipanggil oleh pembawa acara, sang ustad naik ke mimbar. Ustad itu mengenakan baju muslim lengkap. Baju koko yang disetrika licin, sarung, dan peci telah terpakai manis di tubuhnya.
Sambil tersenyum, sang ustad tadi bertanya kepada yang hadir di situ, ?Coba tebak, apa agama saya?? Sambil senyam-senyum hadirin itu serentak menjawab ?Islaaam..? Lalu Ustad melepas pecinya. Kemudian bertanya lagi, ?Apa agama saya?? Hadirin pun menjawab lagi, ?Islaaam..?
Sang ustad melepas baju kokonya dan berganti dengan tshirt lusuh. Tidak hanya itu, ia juga melepas sarungnya. Ternyata dia masih menggunakan celana pendek selutut di balik sarung tersebut. Sekarang sang ustad hanya memakai tshirt lusuh dan celana pendek selutut.
Kemudian ia melontarkan pertanyaan retoris pada hadirin, ?Apakah anda semua masih yakin saya Islam??. Belum sempat para hadirin menjawab, sang ustad berkata lagi, ?Seperti inilah cara Tuhan melihat umatnya? khotbah selesai, sekian dan terima kasih. ... baca selengkapnya di Sang Ustad Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
Musik selalu menemani hari-hariku, ia menempati urutan nomor satu dalam hidupku. Menurutku ga ada musik itu pertanda ga ada kehidupan. Sayangnya suaraku tidak begitu merdu, bisa dibilang suaraku itu pas-pasan.
Tapi aku tetep nekad masuk paduan suara di sekolahku, karena ga ada ekskul lain yang aku suka selain paduan suara.
“Sekolah kita akan mengikuti lomba paduan suara tingkat regional, jadi kalian perlu latihan lebih keras dari biasanya, semangat anak-anak. Buatlah sekolah kita semakin berjaya.”
“Siapppp bu.”
Dia adalah ibu marina, guru kesenian dan pelatih paduan suara. suaranya bagus, dia Juga memiliki metode yang baik dalam mengajar, sehingga dia menjadi guru favorit anak-anak SMA 5.
“Tiara.”
“Iyah bu, hadir.”
“Bisa ibu bicara sebentar?”
Dag dig dug der rasanya. Saat bu marina memanggil namaku. rasa penasaran pun menyelimuti ruang batinku.
“Ara, kamu yang jadi dirijennya yah.”
“Kenapa saya bu? Suara saya tidak terlalu bagus.”
“Ini bukan permasalhan suara ara, tapi kamu memiliki jiwa kepemimpinan yang baik. Kamu mampu mengendalikan mereka, cuma kamu yang bisa.”
Hari itu entah kenapa aku merasa bunga-bunga yang layu itu bermekaran kembali. Anai-anai yang beterbangan itu pun seolah merekat kembali. Dan Suara burung itu terdengar sedang bersenandung untukku, sen ... baca selengkapnya di Senandung Indah Untuk Tiara Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
Seorang anak muda. Ia telah berusaha memberikan dasar yang kokoh bagi keluarganya. Namun ia menemukan kekosongan di dasar sanubarinya. Ia dilanda kecemasan dan kehilangan arah hidup. Semakin hari situasinya semakin parah. Ia memutuskan untuk pergi ke dokter sebelum menjadi amat terlambat.
Setelah mendengarkan keluhannya, dokter memberikan empat bungkus obat sambil berpesan; ?Besok pagi sebelum jam sembilan pagi engkau harus menju pantai seorang diri sambil membawa ke empat bungkus obat ini. Jangan membawa buku atau majalah. Juga jangan membawa radio atau tape. Di pantai nanti anda membuka bungkusan obat sesuai dengan waktu yang tercatat pada bungkusannya, yakni pada jam sembilan, jam dua belas, jam tiga dan jam lima. Dengan mengikuti resep yang ada di dalamnya aku yakin penyakitmu akan sembuh.?
Orang tersebut berada di antara percaya dan ragu akan resep yang diberikan dokter. Namun demikian pada hari berikutnya ia pergi juga ke pantai. Begitu tiba di pesisir pantai di pagi hari, sementara matahari pagi mulai muncul di ufuk timur dan laut biru memantulkan kembali sinarnya yang merah keemasan itu, sambil deru ombak datang silih berganti, hatinya dipenuhi kegembiraan yang amat dalam.
Tepat jam sembilan, ia membuka bungkusan obat yang pertama. Tapi tak ia dapati obat didalamnya, cuma secarik kertas dengan tulisan: ?Dengarlah.? Aneh bin ... baca selengkapnya di Empat Obat Mujarab Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
Oleh: Radinal Mukhtar“ Kebaikan tidaklah akan dibalas dengan keburukan, Sebagaimana petani yang tidak akan menuai hasil dari tanaman yang tidak ditanamnya (Abu Al-‘Atahiyah)”
Ketika saya sedang menempuh pendidikan di pondok pesantren Ar-Raudhatul Hasanah, Medan, salah seorang Ustadz pernah bercerita mengenai kisah hidup seorang pengusaha tekstil terkenal di dataran Saudi Arabia. Kisah tersebut sampai saat ini telah di abadikan di dalam buku “Qiro’atul Wafiah” karya Abdul Fattah Sibry dan Ali Umar.
Dikisahkan bahwa terdapatlah seorang anak kecil yang berjalan di tengah pasar untuk sekedar mendapatkan pekerjaan yang memberinya upah makan. Maka ketika ia melihat seseorang lewat di depannya, ia akan selalu bertanya tentang apakah ada pekerjaan yang bisa ia lakukan untuk mendapatkan upah. Begitu seterusnya.
Namun. Di lain pihak, para pejalan kaki menyangka bahwa ia hanyalah seorang anak kecil yang mengemis. Tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan sang anak tersebut, para pejalan kaki melempari uang receh kepadanya. Maka sang anak hanya bisa berdoa untuk kebaikan para pejalan kaki tersebut.
“In life, lots of people know what to do, but few people actually do what they know. Knowing is not enough! You must take action. – Dalam kehidupan ini, mayoritas manusia mengerti apa yang harus dilakukan, tetapi hanya sebagian kecil yang melaksanakan apa yang mesti mereka lakukan. Mengerti saja tak cukup! Anda harus melakukan tindakan nyata.”
~ Anthony Robbins
Fenomena dalam kehidupan sehari-hari memang sangat sering kita jumpai orang-orang yang cukup mengerti dan memahami tentang nilai-nilai moralitas, spiritual, teori tentang membangun kesuksesan, keluarga yang bahagia dan lain sebagainya. Mereka pun terdiri dari orang-orang yang cukup berpendidikan atau menguasai teorinya secara mendalam. Sebagian di antara mereka bahkan sengaja menghabiskan cukup banyak waktu dan uang untuk memahami konteks tersebut lewat seminar, diskusi, dan lain sebagainya.
Teori tentang nilai-nilai moralitas, spiritual, membangun kesuksesan, keluarga yang bahagia, kesehatan yang prima dan lain sebagainya itu pun sudah dikenal secara luas oleh masyarakat sejak berabad-abad yang lalu. Olah raga, hidup bersih dan sehat, jujur, berpikir positif, visualisasi, afirmasi dan lain sebagainya pun telah dikenal cukup efektif untuk mewujudkan konsep-konsep ideal tersebu ... baca selengkapnya di Melaksanakan, Tidak Sekadar Mengetahui dan Mengerti Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu
Bentrok Tanjung Priok: Keserakahan Kapitalis/Pengusaha?
Oleh: Agus Nizami
Dua anggota DPRD DKI Jakarta mengalami luka serius setelah dipukuli Satpol PP meski sudah menunjukkan identitas. Sementara banyak rakyat lainnya luka bahkan ada yang meninggal karena bentrok dengan Satpol PP. Satpol PP itu petugas keamanan atau preman yang menakutkan?
Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim berkata: “Tindakan Satpol PP pada warga sekitar areal pemakaman Mbah Priok sungguh brutal. Satpol PP bertindak layaknya segerombolan preman, bukan aparat penegak hukum.”
Bentrokan terjadi karena Pemprov DKI hendak menggusur bangunan liar yang berada di sekitar kompleks pemakaman Habib Hasan bin Muhammad Al Hadad atau Mbah Priok yang diklaim milik PT Pelindo II. Luas komplek pemakaman 50.000 m2 dan jadi tempat pengajian mingguan dengan jumlah santri 1.500 orang. Pemda DKI ingin menggusur dan menyisakan seluas 100 m2.
Tapi aneh juga jika Komplek Pemakaman Habib Hassan bin Muhammad Al Hadad yang merupakan pendiri Tanjung Priok yang berusia ratusan tahun (sejak abad 18) tiba-tiba diklaim jadi milik PT Pelindo II. Kapan belinya? Aneh sekali jika pengadilan yang kerap di tengarai ada Mafia Peradilan/Mafia Hukum akhirnya memenangkan PT Pelindo II sebagai pemilik lahan tersebut.
PT Pelindo II sudah menguasai lahan 1,4 juta m2 lebih. Selain itu dari peta di Wikimapia, masih banyak lahan kosong di situ. Kenapa PT Pelindo II ngotot ingin merebut tanah makam tersebut? Kenapa tidak memanfaatkan lahan kosong yang masih ada atau jika perlu mereklamasi pantai di sekelilingnya? Singapura mampu mereklamasi laut seluas 100 km2 menjadi daratan.
Seharusnya Walikota Jakarta Utara dan Satpol PP yang digaji pakai uang rakyat juga meneliti siapa pemilik tanah tersebut. Orang yang menggunakan akal sehat tentu tahu bahwa tanah tersebut adalah milik pendiri Tanjung Priok dan ahli warisnya kecuali jika ada jual-beli yang ditandai dengan akte jual-beli dengan pemilik yang sah.
Dosa besar mengambil tanah orang dengan jalan yang bathil
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,” [At Taubah 34]
“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. ” [Al Baqarah 188]
TRAGEDI BERDARAH MBAH PRIOK, BUNTUT DARI PRIVATISASI KORUP
Tanjung Priok kembali membara. Dan seperti Tragedi Priok 1984, lokasi kejadian 14 April 2010 juga terjadi kawasan Koja. Sebab musabab atau pemicunya memang berbeda, tapi yang menjadi sasaran tetap sama, yaitu umat Islam.
Kalau Tragedi 1984 bermotif politik represif rezim orde baru terhadap Islam, maka Tragedi Priok Berdarah kali ini bermotif ekonomi bisnis, tepatnya ketamakan bisnis kapitalis besar dunia atas wilayah Koja, bekerjasama dan dibantu penuh oleh para pejabat pemerintah pusat dan daerah RI serta BUMN Pelindo II.
Kapitalis besar dunia itu adalah Hutchison Whampoa Group, milik Taipan Hongkong Li Ka-shing, orang terkaya di Asia Timur. Salah satu anak perusahaan grup ini, Hutchison Port Holdings (Grossbeak Pte.Ltd), adalah pemilik 51% saham di Jakarta International Container Terminal (JICT), dan 48% saham di Terminal Peti Kemas Koja (TPK Koja). Saham sisa di dua terminal peti kemas itu dimiliki oleh BUMN Pelindo II. Hutchison mengambil alih saham TPK Koja dari Humpuss Intermuda, yang saat itu berada di tangan BPPN akibat krisis 1998.
Kepemilikan Hutchison Group di dua perusahaan besar terminal peti kemas di Priok ini diperoleh melalui proses privatisasi yang korup di tahun 1999 (JICT) dan tahun 2000 (TPK Koja), penuh kongkalingkong dan sogok. Kapitalis besar dunia yang punya ambisi monopoli pelabuhan besar dunia dibantu penuh oleh para pejabat pemerintah dan BUMN negeri ini, yang dalam otaknya hanya ada pikiran "UANG".
Mungkin ada yang bertanya, apa hubungan antara privatisasi itu dengan Tragedi Priok Berdarah?
Hubungannya jelas: ketamakan kapitalisme global untuk memonopoli habis bisnis terminal peti kemas (TPK) yang menggiurkan itu. Dan monopoli yang sejatinya ditentang oleh hukum di negara beradab, termasuk katanya negeri ini, ternyata dipertontonkan dengan telanjang oleh Hutchison Group, dibantu Pelindo II. Kepemilikan Hutchison atas dua terminal peti kemas besar itu, termasuk dengan akal-akalan penjualan saham kepada perusahaan berbasis di Mauritius yang ternyata masih satu grup, memang amat kasat mata.
Mahkamah Agung RI pun telah mengetukkan palu atas permohonan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang menyatakan telah terjadi monopoli di pelabuhan petikemas Tanjung Priok.
Yang membuat miris, ternyata Hutchison nampak jelas punya niat buruk untuk "membunuh" TPK Koja, yang sebelumnya amat besar memberi keuntungan pada negara. TPK Koja yang awalnya diniatkan sebagai kompetitor bagi JICT, untuk memacu perkembangan di dua perusahaan milik Pelindo itu, kini terus dikerdilkan oleh Hutchison. Dan nampaknya tengah disiapkan untuk mati. Dan anehnya itu dibantu oleh BUMN Pelindo II. Padahal sekitar tahun 1997, TPK Koja pernah disebut-sebut sebagai Booming’s Port untuk Asia Tenggara.
PT. Pelindo II membantu ambisi besar Hutchison itu dengan menyempitkan lahan TPK Koja, antara lain dengan menyewakan tanah disana kepada PT Graha Segara (depo petikemas) dan PT Aneka Kimia Raya untuk Instalasi Tanki Penyimpanan Bahan Bakar cair. Dan yang lebih menggenaskan lagi ada pengalihan lahan untuk perluasan Container Yard PT. JICT ke arah area TPK Koja.
Perluasan PT. JICT dilakukan, dengan nama ‘penyambungan’ dermaga maupun rencana ‘penyatuan’ gate maupun yard (lapangan penumpukan) demi alasan kemudahan Transhipment. Dalam 2 (dua) tahun ke depan PT JICT akan melakukan ekspansi dengan investasi sebesar 166 juta US$. engan ekspansi sebesar itu PT JICT direncanakkan mampu menangani petikemas sebanyak 3.2 juta TEUs setahun., padahal jumlah petikemas yang keluar masuk Tanjung Priok hanya sekitar 3 juta TEUs, hal ini berarti bahwa di Tanjung Priok cukup satu terminal Petikemas saja, yaitu PT JICT. Yang lain silahkan mati saja, termasuk TPK Koja. Maka lengkaplah monopoli Hutchison grup atas pelabuhan terbesar Indonesia ini.
NAH, ekspansi (perluasan) inilah yang jrencananya akan "memakan" korban makam Al-Habib Hassan bin Muhammad al-Haddad. Sebuah ambisi dan ketamakan kapitalis global yang monopolistik, dibantu para pejabat penjual negara, yang karena menjadikan UANG sebagai tuhan, mereka tidak peduli pada sensitifitas lokal. Demi uang mereka terabas norma-norma kultur religius lokal, hingga akhirnya anak-anak bangsa menjadi korban bergelimpangan.
Sampai kapan ketamakan para kapitalis global itu mengangkangi negara kita? Dan sampai kapan para pejabat negara ini, yang sejatinya dibayar rakyat untuk mengamankan aset negara dan rakyatnya tapi justeru menggadaikannya kepada para kapitalis global yang bertuhan FULUS itu?*
*****
PRIVATISASI KORUP DI PELINDO BERUJUNG MAUT
Proses privatisasi terhadap PT Jakarta International Container Terminal (PT JICT) –anak perusahaan PT Pelindo II- pada tahun 1999 amat sarat dengan aroma korupsi. Banyak pejabat tinggi negara yang terlibat dalam proses ini diduga kuat melakukan korupsi dan kongkalingkong untuk keuntungan pribadi dan Hutchison Whampoa Group, perusahaan Hongkong yang membeli 51% saham JICT.
Namun seperti banyak kasus korupsi lain di republik ini yang melibatkan pejabat-pejabat tinggi negara, proses hukum terhadap para pejabat itu tidak pernah jelas. Setelah ditunda-tunda dan sempat dua tahun dihentikan penyidikannya oleh Kejaksaan, Timtas Tipikor (Tim Pemeberantasan Tindak Pidana Korupsi) Nasional saat itu akhirnya mengumumkan nama-nama tersangka koruptor yang bertanggung jawab atas privatisasi 51% saham PT. JICT itu. Sederet nama besar muncul seperti Herwidayatmo (mantan Ketua Bapepam dan saat itu Deputi Meneg BUMN bidang Privatisasi), Tanri Abeng (saat itu Menteri BUMN), dan Bambang Subianto (saat itu Menteri Keuangan), serta beberapa pejabat PT.Pelindo II, salah satunya adalah Herman Prayitno (saat itu Dirut PT. Pelindo II).
Namun, proses hukum terhadap kasus korupsi ini tak pernah jelas sampai sekarang. Padahal, proses privatisasi itu dinilai banyak kalangan tidak masuk akal karena harga jual JICT yang sangat rendah, hanya US252 juta plus bantuan US$28 juta dalam bentuk bantuan teknologi informasi selama 20 tahun. Sebagai perbandingan, Terminal Peti Kemas Surabaya dengan kapasitas produksi sepertiga dari JICT laku dijual US$365 juta.
Proses privatisasi ini juga telah merugikan negara trilunan rupiah akibat adanya perjanjian Technical Assistance Know-How and Service oleh Menneg BUMN waktu itu (Tanri Abeng), yang mewajibkan pembayaran imbalan fee kepada Seaport V. sebesar 14,08 % dari laba bersih bulanan. Ini adalah pelanggaran hukum. "Pembayaran fee yang besarnya mencapai 4,5 miliar per bulannya selama 20 tahun ini, jika terus dilakukan maka mengakibatkan kerugian negara mencapai triliunan rupiah," kata Hari Santosa, Sekretaris Jenderal Indonesian Port Watch (IPW), pada 25 Januari 2006.
Privatisasi itu juga yang menjadikan TPK Koja yang semula dicita-citakan menjadi “the most modern container terminal” di Indonesia mengalami derita panjang, dan saat ini tengah menuju kematian, dibunuh pelan-pelan oleh Hutchison Group demi ambisi monopoli di Tanjung Priok. Tentu dengan bantuan para pejabat pemerintah pusat dan daerah serta BUMN Pelindo.
Ketamakan Hutchison Group milik taipan Hongkong Li Ka-shing, yang berusaha melahap seluruh area sekitar Koja, termasuk makam Al-Habib Hassan bin Muhammad al-Haddad, akhirnya memakan korban nyawa anak-anak bangsa dan kerugian material ratusan miliar.*